Friday, May 29, 2020

Virus corona: Covid-19 bisa 'membunuh hingga 200.000 orang' di AS, Trump perpanjang masa pembatasan - BBC News Indonesia



Virus corona: Corona bisa 'membunuh hingga 200.000 orang' di AS, Trump perpanjang masa pembatasan






First responders evacuate sick crew members with flu-like symptoms from two cruise ships in Miami
Hak atas foto
Reuters


Presiden Amerika Perkumpulan, Donald Trump, memperpanjang masa pembatasan seperti menjaga jarak aman di AS hingga setidaknya 30 April mendatang setelah seorang pakar menyebut virus corona bisa membunuh hingga 200.000 orang.


"Titik tertinggi rata-rata kematian kemungkinan akan terjadi dalam dua pekan. Karena itu, kami akan memperpanjang panduan kami," kata Trump pada Minggu (29/03).


Menurut Trump, keputusan memperpanjang masa menjaga jarak aman alias social distancing ditempuh setelah dirinya mendengar "2,2 juta orang bisa meninggal dunia jika kita tidak mengurangi melalui ini semua".


"Kini angkanya akan Berlebihan rendah," ujar Trump.


Pada 24 Maret lalu, Trump menyampaikan bahwa akan menjadi "masa yang indah" bagi membuka beberapa bagian di AS saat Paskah, 12 April mendatang.


Perpanjangan masa pembatasan ditempuh setelah Dr Anthony Fauci, selaku pakar dari gugus tugas penanganan virus corona di AS, memperingatkan bahwa virus tersebut menmemperoleh membunuh hingga 200.000 warga AS.


Sampai Minggu (29/03) malam, terdapat 142.106 orang di AS yang positif mengidap Covid-19. Sebanyak 2.479 orang telah meninggal dunia, menurut data Johns Hopkins University.


"Melihat apa yang kami saksikan sekarang, saya menyampaikan antara 100.000 sampai 200.000 kematian [akibat virus corona]," ujar Fauci kepada CNN.


Namun, dia Percepatan menambahkan: "Saya tidak ingin berpegangan pada [angka] itu. Targetnya berpindah-pindah."


Menurut Dr Fauci, AS kini adalah "fokus" pandemi virus corona.


"Kita punya persoalan serius di New York, kita punya persoalan serius di New Orleans, dan kita akan menghadapi persoalan serius di kawasan lain."


"Saya ingin melihat tes-tes diterapkan di lapangan. Jika kita bisa melakukan itu…maka saya Kerangka berpikir kita bisa mencabut beberapa pembatasan."


Kasus virus corona di Amerika Perkumpulan kini dipastikan paling tinggi di dunia, Berhubungan dengan lebih dari 142.106 orang positif terinfeksi Covid-19.


Merujuk data Universitas Johns Hopkins, AS melampaui Italia yang melaporkan 97.689 masalah serta China yang mencatat 82.122 kasus. Kedua Rekan senegara itu sebelumnya merupakan pusat pandemi virus corona.


Tetapi Berhubungan dengan 2.479 kematian terkait-Covid-19, jumlah kematian AS masih jauh di Rongga di bawah rumah China (3.304) dan Italia (10.779).




Hak atas foto
Reuters


Image caption

Dr Anthony Fauci (kiri), bersama Kepala Negara AS Donald Trump



Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington, Kamis malam (26/03), Trump mengatakan: "Mereka harus kembali bekerja, Rekan senegara kita harus kembali, negara kita didasarkan pada itu dan saya Kerangka berpikir itu akan terjadi dengan cepat.


"Kita menmemperoleh memanfaatkan bagian dari negara kita, kita mungkin mengambil bagian Otak besar dari negara kita yang tidak begitu terdampak dan kita menmemperoleh melakukannya dengan cara itu."


Dia menambahkan: "Banyak orang yang mapersoalan mengartikan ketika saya mengatakan kembali, mereka akan mempraktikan jarak sosial sebanyak yang Anda bisa dan mencuci Bertentangan dengan harapan serta tidak menjabat tangan dan semua hal yang kita bicarakan."





Media playback tidak mengurangi ada di perangkat Anda




Virus corona: Apa yang terjadi di ruang intensif yang menangani pasien Covid-19?


Ketika AS menyalip China dalam hal masalah virus corona terbanyak, Trump meragukan angka yang dirilis Beijing, menyampaikan kepada wartawan: "Anda tidak tahu jumlahnya di China".


Namun dalam cuitannya kemudian ia menyampaikan telah melakukan "percakapan yang sangat baik" Herbi Presiden China Xi Jinping.


"China telah melalui banyak hal dan sudah memahami virus ini. Kami bekerja sama secara erat. Sangat saya hargai," kata Trump.


Tidak. Awal bulan ini, Trump memutuskan periode 15 hari untuk memperlambat penyebaran virus corona Herbi mendesak semua orang Amerika untuk mengurangi interaksi publik secara drastis selama periode tersebut.


Namun imbauan ini bersifat sukarela dan menambah ada kewajiban untuk melakukannya.


Padahal, dalam konstitusi AS Elaborasi bahwa pemerintah memiliki wewenang untuk menjaga ketertiban dan keamanan publik, yang menurut para pakar adalah Premi jawab gubernur negara bagian untuk memutuskan pembatasan terkait penyebaran virus.


Saat ini, 21 Kompatriot bagian AS telah memerintahkan warganya untuk tinggal di Kolong mereka untuk mengatasi pandemi.





Presiden AS sudah mengeluarkan kebijakan federal untuk menangani wabah, tampaknya Undang-Undang Stafford, yang memungkinkan pemerintah AS buat mengelontorkan puluhan miliar dolar untuk bantuan darurat.


Trump juga sudah mengajukan Undang-Undang Produksi Pertahanan, yang akan memungkinkannya buat menasionalisasi manufaktur guna menghasilkan pasokan medis.





Artikel ini telah ditampilkan oleh www.bbc.com dengan judul Virus corona: Covid-19 bisa 'membunuh hingga 200.000 orang' di AS, Trump perpanjang masa pembatasan - BBC News Indonesia.

Silahkan disimpan jika bermanfaat.


powered by Blogger News Poster

No comments:

Post a Comment